Menu
Kontak
PROFIL

Pendiri Pondok Pesantren Al Mahmud Al Islami

Mengenal sosok, perjalanan hidup, serta perjuangan dalam mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Al Mahmud Al Islami.

TGH. Ahmad Makki

TGH. Ahmad Makki

Tokoh pendidikan Islam yang memiliki perhatian besar terhadap pembinaan generasi muda melalui pendidikan agama, akhlak dan pendidikan umum.

Tempat Lahir Aik Ampat, Lombok Barat
Tanggal Lahir 31 Desember 1952
Pendahuluan Setiap lembaga pendidikan memiliki sejarah dan tokoh yang meletakkan dasar perjuangannya. Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami Aik Ampat, Lombok Barat, tidak dapat dipisahkan dari sosok Almukarram TGH. Ahmad Makki rahimahullah, seorang ulama yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri pada ilmu, ibadah, dakwah, dan pendidikan masyarakat.

Perjalanan hidup beliau merupakan bagian dari mata rantai tradisi keilmuan Islam di Lombok. Beliau tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan kehidupan keagamaan, menempuh pendidikan pesantren, memperdalam ilmu di Makkah al-Mukarramah, kemudian kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat.

Bagi keluarga, santri, murid, dan masyarakat yang mengenal beliau, TGH. Ahmad Makki bukan sekadar pengajar agama, melainkan juga seorang murabbi, pendakwah, serta teladan dalam kesederhanaan dan ketekunan beribadah.

Warisan terbesar beliau bukan hanya berupa bangunan atau lembaga pendidikan, melainkan ilmu yang diajarkan, murid yang dibina, nilai-nilai keagamaan yang diwariskan, serta tradisi pendidikan Islam yang terus dilanjutkan melalui Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami.
1

Kelahiran dalam Lingkungan Keluarga dan Tradisi Keagamaan

TGH. Ahmad Makki rahimahullah lahir di Desa Aik Ampat, Lombok Barat, pada 31 Desember 1952.
Beliau berasal dari keluarga yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Ayah beliau, Haji Husni, merupakan salah seorang yang dipercaya masyarakat untuk menjalankan tugas pemerintahan desa dan pernah menjabat sebagai kepala lingkungan (kaling).

Dari jalur keluarga, terdapat pula sosok ulama yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah keagamaan masyarakat Aik Ampat, yaitu Datuk Mahmud, kakek beliau. Datuk Mahmud dikenal sebagai kiai dan tokoh agama yang berpengaruh dalam kehidupan keagamaan masyarakat Desa Aik Ampat pada masanya.

Sejak masa kanak-kanak, TGH. Ahmad Makki telah tumbuh dalam lingkungan yang memperkenalkan nilai-nilai agama, kehidupan bermasyarakat, serta penghormatan terhadap ilmu dan ulama.
2

Masa Kanak-Kanak dan Awal Perjalanan Menuntut Ilmu

Pada masa kanak-kanak, TGH. Ahmad Makki sempat menempuh pendidikan sekolah dasar, tetapi tidak sampai menyelesaikannya. Keterbatasan pendidikan formal tersebut tidak mengurangi semangat beliau dalam menuntut ilmu. Sebaliknya, keadaan itu menjadi awal bagi perjalanan beliau sebagai penuntut ilmu yang lebih sungguh-sungguh.
Beliau kemudian memilih jalur pendidikan pesantren, yang pada masa itu merupakan salah satu pusat utama pembelajaran ilmu-ilmu keislaman di Lombok.

Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam kehidupan beliau. Dari seorang anak kampung, beliau tumbuh menjadi penuntut ilmu yang tekun dan kelak dikenal sebagai salah seorang Tuan Guru yang mengabdikan hidupnya kepada masyarakat.
3

Menuntut Ilmu di Pondok Pesantren Selaparang

Dalam perjalanan keilmuannya, TGH. Ahmad Makki menuntut ilmu di Pondok Pesantren Selaparang, Kediri.
Di pesantren tersebut, beliau memperoleh pembinaan ilmu agama secara lebih mendalam dari sejumlah ulama dan Tuan Guru yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat.

Di antara guru tempat beliau menimba ilmu ialah Almukarram TGH. Lalu Abdul Hafid Kediri (Guru Utama). Beliau juga belajar kepada Tuan Guru Ibrahim Khalidi, Tuan Guru Abdul Karim Nurul Hakim serta para Tuan Guru lainnya.

Lingkungan pesantren memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan keilmuan dan kepribadian beliau. Pendidikan yang dijalani tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga membentuk adab seorang penuntut ilmu, seperti menghormati guru, bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga ibadah, hidup sederhana, dan mengamalkan ilmu.

Nilai-nilai tersebut kemudian tercermin dalam kehidupan beliau ketika kembali ke tengah masyarakat.
4

Memperdalam Ilmu di Makkah al-Mukarramah

Perjalanan keilmuan TGH. Ahmad Makki tidak berhenti di tanah air. Beliau memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memperdalam ilmu agama di Makkah al-Mukarramah. Di Makkah, beliau tinggal dan belajar selama kurang lebih satu tahun.

Pengalaman menuntut ilmu di tanah suci menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektual dan spiritual beliau. Setelah menyelesaikan masa belajarnya, beliau kembali ke Lombok dengan membawa bekal keilmuan dan pengalaman yang kemudian dicurahkan untuk kepentingan masyarakat.

Kepulangan beliau dari Makkah bukanlah akhir dari perjalanan mencari ilmu, melainkan awal fase baru untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat.
5

Pernikahan dan Kehidupan Keluarga

Sekitar tahun 1980, setelah kembali dari perjalanan menuntut ilmu, TGH. Ahmad Makki menikah dengan Hajjah Marhamah, yang pada masa mudanya dikenal dengan nama Majeni.

Pernikahan tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan beliau. Rumah tangga tidak hanya menjadi tempat membangun keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan dalam menjaga dan meneruskan tradisi keilmuan.
Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai tiga orang putra:
1. TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki, M.Pd., yang kemudian meneruskan perjuangan beliau dan menjadi pimpinan Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami.
2. Hulaifi, S.H., yang saat ini aktif di Yayasan Al-Mahmud srbagai dewan pengawas dan penasehat, sekaligus mengabdikan diri di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat.
3. Muhammad Khudhori.
Melalui keluarga inilah sebagian perjuangan dan nilai-nilai yang beliau tanamkan terus dilanjutkan dari generasi ke generasi.
6

Kembali ke Kampung: Dari Penuntut Ilmu Menjadi Pengabdi Masyarakat

Setelah menyelesaikan perjalanan menuntut ilmu, TGH. Ahmad Makki memilih kembali ke kampung halaman.
Beliau tidak menjauh dari masyarakat, melainkan menjadikannya sebagai ruang pengabdian. Ilmu yang diperoleh dari pesantren dan Makkah dibawa pulang untuk diajarkan dan diamalkan. Beliau menjalankan tugas keagamaan sebagai penghulu serta aktif memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

Selain itu, beliau berdakwah dari satu tempat ke tempat lain. Pengajian yang beliau sampaikan tidak terbatas pada satu lingkungan, tetapi menjangkau berbagai kampung di sekitar Kecamatan Gerung. Majelis taklim, pengajian jamaah, dan berbagai kegiatan keagamaan menjadi bagian dari pengabdian beliau selama bertahun-tahun.
7

Corak Dakwah: Ilmu, Keteladanan, dan Kesederhanaan

Salah satu ciri utama kepribadian TGH. Ahmad Makki ialah cara beliau menyampaikan ajaran agama. Beliau dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak berbicara, tetapi memiliki ketenangan dan kesantunan dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Bagi beliau, dakwah tidak hanya disampaikan melalui lisan. Sikap, ibadah, akhlak, dan perilaku sehari-hari juga merupakan bagian dari dakwah. Beliau dikenal sebagai sosok yang alim dan 'abid, tekun beribadah, sederhana dalam menjalani kehidupan, serta santun dalam pergaulan. Karakter tersebut membuat beliau dihormati bukan hanya karena keluasan ilmu, tetapi juga karena akhlak dan keteladanan yang tercermin dalam kesehariannya.
8

Pengabdian dalam Pendidikan dan Pembinaan Masyarakat

Sepanjang hidupnya, TGH. Ahmad Makki memberikan perhatian besar terhadap pendidikan agama masyarakat. Beliau mengajarkan ilmu agama secara langsung melalui pengajian dan majelis taklim. Pendidikan yang beliau lakukan senantiasa dekat dengan kebutuhan masyarakat, yakni memberikan pemahaman agama sekaligus membimbing mereka agar mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi beliau, ilmu agama harus memiliki hubungan yang erat dengan amal. Oleh karena itu, kegiatan mengajar tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diarahkan agar ilmu tersebut melahirkan ibadah, akhlak, dan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
9

Murid-Murid dan Jaringan Keilmuan

Dalam perjalanan dakwah dan pendidikannya, TGH. Ahmad Makki membina banyak murid dari berbagai wilayah di Lombok. Murid-murid beliau kemudian melanjutkan pengabdian di daerah masing-masing. Sebagian mendirikan pondok pesantren, menjadi kiai dan tokoh agama, mendirikan atau mengelola Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), menjadi guru, serta aktif dalam kegiatan dakwah dan pembinaan masyarakat.

Dengan demikian, pengaruh perjuangan beliau tidak hanya dirasakan di lingkungan tempat tinggalnya, tetapi juga berkembang melalui murid-murid yang membawa ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh kepada masyarakat masing-masing. Mereka menjadi bagian dari mata rantai yang meneruskan tradisi ilmu dan dakwah yang telah beliau jalankan.
10

Lahirnya Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami

Salah satu wujud nyata cita-cita pendidikan TGH. Ahmad Makki ialah berdirinya Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami Aik Ampat, Lombok Barat. Pondok pesantren tersebut menjadi wadah untuk melanjutkan perjuangan pendidikan dan dakwah beliau. Di dalamnya terkandung cita-cita untuk menjaga ilmu agama, membina generasi muda, menanamkan akhlak, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Nama Al-Mahmud juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah keluarga dan tradisi keagamaan masyarakat Aik Ampat, khususnya sosok Datuk Mahmud, kakek beliau yang dikenal sebagai ulama di desa tersebut. Dengan demikian, berdirinya Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami merupakan bagian dari kesinambungan sejarah keilmuan dan perjuangan agama yang telah berlangsung dalam keluarga serta masyarakat Aik Ampat.
11

Warisan Keilmuan dan Keteladanan

Warisan TGH. Ahmad Makki rahimahullah tidak hanya berupa lembaga pendidikan. Warisan yang lebih mendasar mencakup ilmu, adab, keteladanan, tradisi belajar, semangat dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Beliau memberikan teladan bahwa seorang alim tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu, tetapi juga mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.

Kehidupan beliau menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pendidik tidak semata-mata diukur dari banyaknya tulisan atau besarnya lembaga yang ditinggalkan, tetapi juga dari seberapa banyak ilmu dan kebaikan yang terus hidup melalui murid dan generasi setelahnya. Dalam konteks tersebut, murid-murid beliau yang tersebar di berbagai wilayah Lombok menjadi bagian penting dari warisan perjuangan beliau.
12

Akhir Hayat

Setelah menjalani kehidupan yang dipenuhi kegiatan menuntut ilmu, beribadah, berdakwah, mengajar, dan melayani masyarakat, TGH. Ahmad Makki rahimahullah sampai pada akhir perjalanan hidupnya. Beliau mengalami sakit dan memperoleh perawatan selama beberapa hari di Rumah Sakit Provinsi Nusa Tenggara Barat. Beliau kemudian wafat pada 17 Rabiul Awal 1445 Hijriah.

Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, murid, santri, dan masyarakat yang selama bertahun-tahun memperoleh bimbingan serta pengajaran dari beliau. Namun, sebagaimana tradisi para ulama, wafatnya seorang alim tidak berarti berakhirnya seluruh perjuangan. Ilmu yang telah diajarkan, murid yang telah dibina, keluarga yang ditinggalkan, dan lembaga pendidikan yang dirintis menjadi bagian dari kesinambungan amal serta perjuangan beliau.
13

Penutup: Ulama yang Hidup melalui Ilmu dan Amal

Almukarram TGH. Ahmad Makki rahimahullah menempuh kehidupan yang sederhana, tetapi sarat dengan pengabdian. Beliau lahir dari keluarga yang dekat dengan tradisi keagamaan, menempuh pendidikan pesantren, memperdalam ilmu di Makkah al-Mukarramah, kemudian kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

Beliau menjalani kehidupan sebagai ulama, penghulu, pendidik, pendakwah, dan pembimbing masyarakat. Kesederhanaan, ketekunan beribadah, kesantunan, dan kecintaan terhadap ilmu menjadi bagian dari keteladanan yang beliau wariskan.

Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami yang beliau rintis merupakan salah satu wujud nyata cita-cita tersebut. Perjuangan itu kemudian diteruskan oleh putra beliau, para santri, murid, dan generasi penerus. Semoga Allah ta’ala menerima seluruh amal saleh beliau, mengampuni dosa dan kekhilafannya, meninggikan derajatnya di sisi-Nya, melapangkan serta menerangi kuburnya, dan menjadikan ilmu yang beliau ajarkan, murid-murid yang beliau bina, keluarga yang beliau tinggalkan, serta Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga hari kiamat.
Perjalanan mendirikan pesantren merupakan bagian dari ikhtiar dalam menghadirkan pendidikan Islam yang memberikan manfaat bagi generasi muda dan masyarakat.