Menu
Kontak
PROFIL

Pimpinan Ponpes Al Mahmud Al Islami

Mengenal sosok yang melanjutkan amanah kepemimpinan, pendidikan, dan perjuangan Pondok Pesantren Al Mahmud Al Islami.

TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki, M.Pd.
Pimpinan Pesantren

TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki, M.Pd.

Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami
TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki, M.Pd. merupakan putra Al-Magfurlah TGH. Ahmad Makki, pendiri Pondok Pesantren Al-Mahmud Al-Islami. Beliau menempuh perjalanan pendidikan agama dan akademik di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia dan Yaman, kemudian mengabdikan ilmu yang diperolehnya melalui pendidikan, pengajaran, dakwah, dan pengembangan Pondok Pesantren Al-Mahmud.
Melanjutkan perjuangan pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi untuk kemaslahatan umat.
01
Profil

Latar Belakang Keluarga & Masa Kecil

TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki, M.Pd. lahir pada 23 Juni 1982 di Aik Ampat, Desa Dasan Geres, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Beliau berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan dan kehidupan keagamaan yang kuat.

Ayah beliau, TGH. Ahmad Makki rahimahullah, merupakan seorang guru agama sekaligus tokoh agama yang aktif memberikan pendidikan dan pembinaan keagamaan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan pengajian. Lingkungan keluarga dan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan dasar keagamaan Bahrul Ulum sejak masa kanak-kanak.

Pada masa kecil, Bahrul Ulum juga banyak diasuh oleh kakek dan neneknya, Haji Ma'ruf dan Hajjah Anisah rahimahumallah. Kehidupan bersama keluarga besar tersebut berlangsung dalam lingkungan yang dekat dengan kegiatan keagamaan.

Sejak usia dini, beliau mulai belajar membaca Al-Qur'an kepada beberapa guru ngaji di wilayah Aik Ampat. Pengalaman belajar Al-Qur'an sejak kecil menjadi dasar awal bagi perjalanan pendidikan agama beliau pada tahap berikutnya.
02
Pendidikan Dasar

Pendidikan Dasar dan Awal Kehidupan Pesantren

Pendidikan formal Bahrul Ulum dimulai di SD Negeri 1 Dasan Geres. Beliau menyelesaikan pendidikan dari kelas I sampai kelas III di sekolah tersebut. Ketika memasuki kelas IV, orang tua beliau memindahkan beliau ke Kediri. Perpindahan tersebut sekaligus menjadi awal beliau memasuki kehidupan pesantren.

Di Kediri, beliau melanjutkan pendidikan dasar di SD Negeri 7 Kediri dan pada saat yang sama menjadi santri di Pondok Pesantren Bawak Sabo di bawah asuhan TGH. Raden Lalu Tajudin rahimahullah.

Beliau mulai mondok sekitar tahun 1990. Di pesantren tersebut beliau mendapatkan pendidikan agama sekaligus melanjutkan pendidikan formal. Kehidupan pesantren pada masa ini menjadi tahap awal yang membentuk kedisiplinan, kemandirian, dan kebiasaan belajar yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan pendidikan beliau.
03
Pendidikan MTs dan MA

Pendidikan MTs dan MA di Pondok Pesantren Selaparang

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Bahrul Ulum melanjutkan pendidikan pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pondok Pesantren Selaparang dibawah asuhan TGH. Lalu Mahsun Bin TGH. L. Abdul Hafiz rahimahumallah. Pendidikan MTs beliau tempuh secara lengkap dari kelas I sampai kelas III.

Setelah menyelesaikan pendidikan MTs, beliau melanjutkan ke jenjang Madrasah Aliyah (MA) dan kembali menyelesaikan pendidikan dari kelas I sampai kelas III di Pondok Pesantren Selaparang.

Dengan demikian, pendidikan formal pada jenjang MTs dan MA beliau selesaikan di Pondok Pesantren Selaparang.
Saat kelas 2 MA, setelah wafatnya TGH. Raden Lalu Tajudin rahimahullah, Bahrul Ulum tinggal di sekitar wilayah Pondok Pesantren Yusuf Abdus Sattar. Meskipun pendidikan formalnya tetap ditempuh di Pondok Pesantren Selaparang, beliau juga mengikuti pengajian dan mempelajari kitab-kitab keislaman di Pondok Pesantren Yusuf Abdus Sattar.

Di pesantren tersebut beliau belajar di bawah bimbingan TGH. Khualid Yusuf Abdus Sattar rahimahullah. Pengalaman ini memberikan tambahan pendidikan keagamaan di luar pendidikan formal yang beliau tempuh di Pondok Pesantren Selaparang.
04
Pendidikan Agama

Pendidikan Keagamaan di Jawa Tengah

Setelah menyelesaikan pendidikan formal di Kediri, Bahrul Ulum melanjutkan pendidikan agama ke Jawa Tengah. Beliau belajar di Ma'had Imam Syafi'i Cilacap selama kurang lebih satu tahun.

Di lembaga tersebut beliau memusatkan perhatian pada pembelajaran ilmu-ilmu keislaman dan kajian kitab. Tahap pendidikan ini menjadi bagian dari proses pendalaman ilmu agama sebelum beliau melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
05
Pendidikan Agama

Pendidikan di Ma'had Ali Al-Ishad Surabaya

Pada tahun 2001–2002, Bahrul Ulum melanjutkan pendidikan di Ma'had Ali Al-Irsyad Surabaya di bawah asuhan Al-Ustadz Abdurrahman At-Tamimi, BA.

Di lembaga tersebut beliau mempelajari bahasa Arab, kajian kitab, serta berbagai ilmu keislaman. Pendidikan ini memperkuat kemampuan beliau dalam memahami sumber-sumber keislaman berbahasa Arab dan menjadi persiapan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
06
Pendidikan Agama

Pendidikan di LIPIA Jakarta

Setelah menyelesaikan pendidikan di Ma'had Ali Al-Ishad Surabaya, Bahrul Ulum melanjutkan pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta.

Beliau mengikuti Program Takmili selama kurang lebih satu tahun. Di LIPIA, beliau memperdalam bahasa Arab dan berbagai ilmu keislaman melalui sistem pendidikan yang lebih formal.
Setelah menyelesaikan pendidikan di LIPIA, beliau kemudian melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Yaman atas dorongan dan dukungan ayah beliau.
07
Pendidikan Agama

Menuntut Ilmu di Yaman (Darul Hadits Ma’rib).

Bahrul Ulum kemudian melanjutkan pendidikan di Darul Hadis Yaman di bawah asuhan Fadhilatusy-Syaikh Dr. Abul Hasan Mushtafa Bin Ismail As-Sulaimani Al-Ma’ribi hafizhahullah.

Beliau belajar di sana selama kurang lebih empat tahun. Dalam masa pendidikan tersebut, beliau mempelajari berbagai disiplin ilmu Islam, antara lain:
• Fikih Mazhab Hanbali;
• Fikih Mazhab Syafi'i;
• Akidah;
• Bahasa Arab;
• Nahwu;
• Musthalahul Hadis;
• Ilmu-ilmu hadis; dan
• Al-Qur'an dan hafalannya.

Pendidikan di Yaman menjadi salah satu tahap penting dalam perkembangan keilmuan beliau karena memberikan kesempatan untuk memperdalam berbagai cabang ilmu Islam melalui kajian kitab dan pembelajaran langsung di lingkungan pendidikan keagamaan.

Setelah kurang lebih empat tahun belajar di Darul Hadis Ma’rib, Bahrul Ulum melanjutkan pendidikan ke Darul Hadis Ma'bar di bawah asuhan Fadhilatusy-Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Imam hafizhahullah.

Beliau menempuh pendidikan di Ma'bar selama kurang lebih satu tahun. Pada tahap ini beliau memberikan perhatian khusus terhadap pendalaman ilmu faraidh, musthalahul hadis, dan beberapa disiplin ilmu Islam lainnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Ma'bar, beliau melaksanakan ibadah haji ke Makkah Al-Mukarramah. Setelah menunaikan ibadah haji, beliau kembali ke Indonesia dan melanjutkan pengabdian di kampung halaman.
08
Pernikahan

Pernikahan dan Keluarga

Setelah beberapa bulan kembali ke Aik Ampat, Bahrul Ulum menikah dengan Yanuarizki Wofi Amalia pada tahun 2010.

Istri beliau memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Beliau merupakan lulusan Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo dan pada saat proses menuju pernikahan sedang menempuh pendidikan di LIPIA (Universitas Imam Ibnu Su'ud Riyadh) Cabang Jakarta.
Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai empat orang anak:
1. Hakam Bahrul Ulum
2. Hatim Bahrul Ulum
3. Hisyam Bahrul Ulum
4. Lubna Bahrul Ulum

Keluarga kemudian menjadi bagian dari kehidupan pengabdian beliau, terutama dalam menjalankan amanah pendidikan dan pengembangan pesantren.
09
Pengabdian

Pengabdian di Pondok Pesantren Al-Mahmud

Setelah kembali ke tanah air, Bahrul Ulum mulai mengabdikan diri dengan mengajar di Pondok Pesantren Al-Mahmud, lembaga pendidikan yang telah dirintis oleh ayah beliau.

Dalam perkembangan berikutnya, beliau turut mengembangkan lembaga pendidikan di lingkungan pesantren. Beliau mendirikan pendidikan jenjang Raudhatul Athfal (RA) tahun 2015 dan kemudian mendirikan pendidikan jenjang Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) tahun 2021.

Sementara itu, pendidikan jenjang MTs dan MA telah lebih dahulu didirikan dan dikembangkan oleh ayah beliau TGH. Ahmad Makki rahimahullah.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya kesinambungan dalam pengelolaan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Mahmud antara generasi sebelumnya dengan generasi berikutnya.
10
Awal Kepemimpinan

Meneruskan Kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Mahmud

Pada tahun 2023, ayah beliau, TGH. Ahmad Makki, wafat. Setelah itu, Bahrul Ulum dipercaya untuk melanjutkan kepemimpinan dan perjuangan yang telah dirintis oleh ayah beliau di Pondok Pesantren Al-Mahmud.

Sebagai penerus, beliau melanjutkan berbagai kegiatan utama pesantren, terutama dalam bidang pendidikan, pembinaan santri, pengembangan lembaga, dan dakwah kepada masyarakat.

Beliau juga melanjutkan kegiatan pengajian di sejumlah masjid yang sebelumnya menjadi tempat pengabdian ayah beliau. Dengan demikian, kegiatan pendidikan dan dakwah yang telah berjalan sebelumnya tetap dilanjutkan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pesantren.
11
Pendidikan Lanjutan

Pendidikan Doktoral

Di tengah aktivitas sebagai pengasuh dan pimpinan pesantren, Bahrul Ulum tetap melanjutkan pendidikan akademiknya.

Saat ini beliau sedang menempuh Program Doktor (S3) di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Pendidikan tersebut merupakan bagian dari upaya beliau untuk mengembangkan wawasan akademik dan memperkuat kapasitas keilmuan dalam bidang pendidikan Islam.

Pengalaman pendidikan pesantren yang panjang, dipadukan dengan pendidikan akademik, menjadi modal penting dalam menjalankan tugas beliau sebagai pendidik dan pimpinan lembaga pendidikan Islam.
12
Perjalanan

Perjalanan Pengabdian

Perjalanan hidup TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki merupakan proses panjang yang berlangsung melalui pendidikan keluarga, pembelajaran Al-Qur'an, kehidupan pesantren, pendidikan formal, perjalanan menuntut ilmu di berbagai daerah, hingga pendidikan keagamaan di Yaman.

Setelah menyelesaikan perjalanan pendidikannya, beliau kembali ke tanah air dan memilih untuk mengabdikan ilmu yang diperolehnya melalui pendidikan, pengajaran, dakwah, dan pengembangan Pondok Pesantren Al-Mahmud.
Setelah wafatnya ayah beliau pada tahun 2023, tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan pesantren kemudian diteruskan oleh beliau. Amanah tersebut menjadi bagian dari kesinambungan pendidikan dan dakwah yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.

Hingga saat ini, TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki terus menjalankan tugas sebagai pendidik, pengasuh, dan Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Mahmud, sekaligus melanjutkan pendidikan doktoralnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kesehatan, kekuatan, dan keistiqamahan kepada beliau dalam menjalankan amanah pendidikan dan dakwah, serta memberikan keberkahan kepada setiap usaha yang dilakukan untuk kemajuan Pondok Pesantren Al-Mahmud dan kemaslahatan masyarakat.
13
Karya Tulis

Karya Tulis

Selain mengajar dan memimpin Pondok Pesantren Al-Mahmud, TGH. Bahrul Ulum Ahmad Makki, M.Pd. juga menyusun beberapa karya tulis sebagai bahan pembelajaran untuk memudahkan para santri, khususnya pemula, dalam memahami ilmu-ilmu keislaman.
Di antara karya beliau adalah:
1. Asy-Syarhul Mukhtashor Ala Muqaddimah Al-Jurumiyah Syarah Ringkas Matan Al-Jurumiyah, merupakan karya pertama yang ditulis sejak tahun 2012, berisi penjelasan dasar-dasar ilmu nahwu.
2. At-Tasyil fi 'Ilmi an-Nahwi (Panduan Praktis Ilmu Nahwu), berisi panduan praktis untuk mempelajari ilmu nahwu dan bahasa Arab, ini merupakan ringkasan dari kitab sebelumnya.
3. Mutiara Makkiyah: Panduan Praktis Fikih Syafi'i dari Kitab Safinah, merupakan syarah fikih Mazhab Syafi'i Matan Safinatunnajah, dengan ketebalan sekitar 575 halaman.
4. Panduan Praktis Fikih Mazhab Syafi'i dari Kitab Matan Safinatun Najah, merupakan ringkasan dari karya sebelumnya yang disusun lebih sederhana untuk santri pemula, dengan ketebalan sekitar 270 halaman.
5. Panduan Praktis Ilmu Sharaf untuk Pemula, berisi materi dasar ilmu sharaf sebagai panduan bagi santri yang baru mempelajarinya.

Karya-karya tersebut menjadi bagian dari bahan pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Mahmud sekaligus sebagai upaya beliau dalam menyediakan materi yang lebih praktis dan mudah dipahami oleh para santri.
Semoga seluruh karya tersebut menjadi amal jariyah bagi beliau, kedua orang tua, keluarga, para guru, dan seluruh santri yang mengambil manfaat darinya.